Kau Sang Penindas
Na’as…
Nasib kami yang selalu tertindas…
Seperti butiran-butiran kerikil dijalanan…
Sedikit demi sedikit mencari arti tapak kaki yang mengais
rezeki antara desah_desah para penjilat yang tak pernah puas…
Melata seperti jelata dalam panggung yang buruk
Hanya untuk memenuhi panggilan isi perut..
Mengasing dintara dasi-dasi para penjilat yang kemaruk…
Menutupi intrik-intrik politik yang busuk…
Hei… Kau…
Yang katanya miliki berjuta emas dalam tumpukan-tumpukan
beras…
Mana hak-hak kami yang kau rampas…
Kami rakyat dan para buruh yang tertindas…
Bertanya padamu para penguasa juga para pengayom rakyat
yang nyata semakin beringas…
Dimana Janji-janji yang kalian ucapkan dengan lantang dan
keras….
Hanya sebuah kata_kata munafik yang membuat telinga kami
panas…
Hei…. Kau para penindas…
Dimata matamu yang telah indah tuhan ciptakan…
Tak kah kau lihat begitu banyak rakyat terjerat pada
rantai kemiskinan…
Kau letakkan kemana telingamu yang lebar…
Hingga tak sedikitpun kau dengar, raga_raga kami yang
mulai terkapar.…
Mencoba memenuhi kantong dan perut yang berteriak lapar…
Wahai Kau… bapak_bapak yang terhormat…
Sadarkah Kau disebagian lelap tidurmu dikasur nan mewah…
Ada derita atas keringat kami yang sedikitpun tak mampu terlelap
diatas tikar yang usang…
Jiwa kami yang luruh, lusuh Menggeram dalam bayang-bayang
para penindas dengan manajemen kafitalisnya yang culas feodallistis tak
terarah….
Dan hari ini..
Kami disini berbaris rapi diantara batu jalanan dan
debu..
Bersama harap atas jiwa kami yang terbelenggu…
Kamilah para buruh yang ditipu…
Kami berkumpul untuk bicara dan berseru…
Bahwa kami bukanlah robot-robot kapitalis…
Yang darah dan keringatnya kau hisap nyaris habis…
Disini… kali ini …
Darah kami mendidih, lirih dan semakin perih…
Meminta hak yang pantas dari para pemimpin …
Raga kami gemetar, dalam barisan yang tak gentar…
Ingin menguliti janji-janji penguasa akan sebuah
kesejahteraan…
Pengusa yang akhirnya menorehkan luka dihati kami atas
sebuah kemiskinan…
Kami bukan Segerombolan bebek, mengikut kemanapun sang
penggembala mengarahhkan arusnya…
Arus yang kau ciptakan menuju jurang kehancuran…
Yang memerdekakanmu dalam setiap tetes keringat yang kami
korbankan…
Wahai kaum yang tertindas….
Nyalakan semangat kalian…
Gerakkan segenap pelopor dari segala penjuru jiwa…
Kibarkan bendera kebebasan…
Semarakkan suara-suara yang terus hilang karena gelapnya
kemiskinan…
“Kami ada karena kau pernah janjikan asa…
“Kami Tetap akan ada meminta haknya…
“Kami hadir atas nama sebuah keadilan…
“Diamana ia kau lettakkan..
Pengangguran-penganguran…
Kemelaratan, ketertindasan juga kemiskinan…
Harusnya tak lagi membludak seperti sekarang…
Karena sebenarnya para penjajah telah lama pergi dan
hilang….
Atau justeru kaulah para penjajah yang garang…
Yang hanya bisa bersembunyi dibawah ketiak para pejuang…
Oh Tuhan…..
Sadarkanlah mereka yang menindas kami tanpa kasihan…
Dan kokohkan kami pada solidaritas sesama tuk
menhancurkan tonggaktonggak pengkhianatan…
Buruh Bersatu Takkan Bisa Dikalahkan…
.…….TANJUNG UBAN, 22
NOVEMBER 2012……..
( Demokrasi Buruh,
Lobam 26 November 2012 )
____________Nindi
Eliktriani_______________